body, a, a:hover {cursor: url(http://1.bp.blogspot.com/-EqdSuJ1lQr4/Tsl-wr7TSfI/AAAAAAAAAj4/hBoRlPJy8qM/s300/contoh-cursor.png), progress;
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
RSS

LIKE THIS (◑‿◐)

Say Hello to Riska (◑‿◐)

TEKNIK UJI RUMPANG


2.1       Pengertian Teknik Uji Rumpang
                        Teknik uji rumpang adalah suatu metode untuk mengukur keterbacaan seseorang terhadap suatu bacaan. Untuk dapat mengimplementasikannya, pembaca wacana rumpang harus mampu berpikir secara analitis dan kritis guna menyelami jalan  pikiran penulis wacananya. Pembaca dengan pemahaman sempurna, dituntut mampu  memahami wacana yang  tidak lengkap itu  sebelum mengisi bagian kata yang  dilesapkan dengan satu kata yang paling tepat. Dengan begitu,  secara tidak langsung  sebenarnya teknik uji rumpang dapat merefleksikan pemahaman seseorang terhadap sebuah wacana. Jika dikaji lebih mendalam, ternyata kita juga dapat memanfaatkan teknik uji rumpang  ini untuk melihat intelegensi pembaca dan penulis teks serta hubungan yang satu dengan yang lainnya.

2.2       Manfaat Teknik Uji Rumpang
            Menurut Bourmuth teknik uji rumpang memiliki dua manfaat, yaitu :
1)      Teknik ini mencerminkan  keseluruhan  pengaruh yang berinteraksi dalam menentukan keterbacaan sebuah wacana.
2)      Teknik ini mengombinasikan hampir seluruh unsur yang berhubungan dengan penentuan keterbacaan.

2.3        Penyusunan Teknik Uji Rumpang
            Taylor (1953) dan Cheek (1983:132) menganjurkan kepada siapa pun yang akan menyusun instrumen teknik uji rumpang, agar mengikuti langkah-langkah berikut ini:
Ø  memilih wacana yang tingkat keterbacaannya selaras dengan daya baca siswa yang akan diuji, dengan  panjang wacana  kurang lebih 250 s.d. 300 kata;
Ø  melesapkan setiap kata ke-n  (jika mengikuti pola yang sistematis) atau kata tertentu sesuai target ujian;
Ø  mengganti  kata yang dilesapkan itu dengan garis mendatar sepanjang kata yang dilesapkan. Harap diingat! Pelesapan kata harus  dimulai pada kalimat kedua karena kalimat pertama perlu dibiarkan utuh guna mengikat makna.
Seandainya kita sudah menyelesaikan ketiga langkah pokok di atas, pekerjaan selanjutnya adalah melengkapi instrumen tersebut sehingga layak dipakai untuk mengumpulkan data. Kelengkapan dimaksud adalah :
Ø  memberi nomor secara berurutan pada setiap garis yang berfungsi sebagai pengganti kata yang dilesapkan itu;
Ø  menyediakan ruang untuk identitas testi;
Ø  membaca ulang instrumen yang sudah disusun dan merevisinya (jika ternyata Anda menemukan adanya kesalahan dalam pengetikan);
Ø  menetapkan alokasi waktu dan menuangkannya dalam lembar instrumen teknik uji rumpang atau dapat pula hanya diinformasikan pada siswa di saat pelaksanaan;
Ø  membuat petunjuk pengerjaan instrumen yang diharapkan dapat membimbing testi selama proses pengisian wacana rumpang itu;
Ø  membuat kunci jawaban, boleh berupa “kata lepas” atau wacana utuh dari teknik uji rumpang.

Untuk menghasilkan instrumen teknik uji rumpang yang baik maka setiap calon pengguna instrumen ini dituntut agar secara bersungguh-sungguh mengikuti prosedur kerja yang dijelaskan sebelumnya. Walaupun proses kerjanya kelihatannya sederhana, namun tetap memerlukan keseriusan dalam memilih bahan dan menuntut ketelitian dalam melesapkannya sesuai pilihan teknik kita.

2.4  Fungsi Teknik Isian Rumpang
Berbicara tentang prosedur isian rumpang, terdapat dua fungsi utama yang diemban oleh prosedur ini.
Ø  Sebagai alat untuk mengukur tingkat keterbacaan wacana. Suatu wacana dapat ditentukan tingkat kesukaran serta dapat diketahui kelayakan pemakaiannya oleh siswa tertentu setelah melalui pengujian melalui prosedur isian ini.
Ø  Sebagai alat pengajaran membaca. Dalam fungsinya sebagai alat ajar, penggunaan teknik isian rumpang dapat dipergunakan untuk melatih kemampuan dan keterampilan membaca siswa. Dengan kata lain, kita dapat menyebutkan dua fungsi utama dari prosedur isian rumpang, yakni sebagai alat ukur dan sebagai alat ajar.

2.5 Contoh Isian Rumpang
Ø Contoh :
Wacana A
Anak perlu dikenalkan kepada alam sekitarnya sedini mungkin. Ini penting untuk perkembangan ----(1)---- dan emosinya. Anda dapat ----(2)---- proses mekarnya bunga dan ----(3)---- aneka warna bunga pada ----(4)---- Kepada anak yang lebih ----(5)---- anda dapat menceritakan bentuk ----(6)----warna bunga yang indah ----(7)---- baunha yang harum, atau ----(8)---- membuat seranggga tertarik dan ----(9)---- untuk menghisap madu.
Wacana B
Selain itu pengenalan ----(1)---- alam sekitar ----(2)---- penting ----(3)---- merangsang kepekaan pengindraan anak. Tangannya bisa setiap kali disentuhkan ----(4)---- permukaan ----(5)---- ujung daun ----(6)---- melatih alat perabanya. Anak ----(7)---- sudah pandai berjalan ----(8)---- diajak menginjak rumput ----(9)---- berembun ----(10)---- pagi.
Apa kesimpulan Anda seteah membaa kedua wacana di atas? Pembuatan teknik uji rumpang di atas tidak sama, bukan? Pengosongan/pelesapan pada wacana pertama dilakukan dengan tingkat keteratuan yang konsisten. Perhatikan, setiap kata ke berapa penghilangandilakukan? Penghilangan kata pada wacana pertama dilakukan pada setiap kata kelima. Pelesapan baru dilakukan pad kalimat kedua; sedangkan kalimat pertama dari wacana tersebut dibiarkan hadir secara utuh.
Pengosongan/pelesapan kata pada wacana kedua tidak dilakukan atas dasar keteraturan jarak. Penghilangan kata pada wacana tersebut tampak tidak konsisten, tidak sistematis. Perhatikan sekali lagi wacana tersebut! Kalau kita amati wacana rumpang di atas, sesungguhnya kata-kata yang dilesapkan masih memperhatikan kekonsistenan, namun tingkat kekonsistenannya bukan terletak pada jarak lesapan katanya, melainkan terletak pada jenis kata yang dilesapkan. Kata-kata yang dilesapkan pada wacana kedua, ternyata semuanya kata-kata tugas. Sementara jarak lesapan, memang memperhatikan ketidakteraturan. Lesapan pertama terletak pada kata keempat, selanjutnya kata ketiga, selanjutnya kata kedua, dan seterusnya.
Ø  Penjelasan Contoh:
Wacana A :
Anak perlu dikenalkan kepada alam sekitarnya sedini mungkin. Ini penting untuk perkembangan intelektual dan emosinya. Anda dapat menceritakan proses mekarnya bunga dan mengenalkan aneka warna bunga pada anak. Kepada anak yang lebih besar anda dapat menceritakan bentuk dan warna bunga yang indah serta baunya yang harum, atau yang membuat serangga tertarik dan datang untuk menghisap madu.
Wacana B :
Selain itu pengenalan terhadap alam sekitar sekitar penting untuk merangsang kepekaan pengindraan anak. Tangannya bisa setiap kali disentuhkan ke permukaan dan ujung daun untuk melatih alat perabanya. Anak yang sudah pandai berjalan dapat diajak menginjak rumput yang berembun setiap pagi.
Jawaban sisiwa untuk mengisi teknik uji rumpang dalam fungsinya sebgai alat ukur, hendakya tepat benar, yakni kata yang persis sama dengan teks ]aslinya. Jika jawaban yang dikehendaki oleh wacana A  adalah (1) intelektual, (2) menceritakan, (3) mengenalkan, (4) anak, (5) besar, dan seterusnya, demikian juga seharusnya siswa mengisi/menjawabnya. Cara ini biasanya dimaksudkan untuk dipergunakan oleh sekelompok besar siswa dalam kelas yang besar.
Dalam kenyataannya, penggunaan teknik isian rumpang, tidak selalu menuntut jawaban persis dari siswanya. Kata-kata yang bersinonim atau kata-kata yang dapat menggantikan kedudukan kata asli, bai ditinjau dari sudut makna atau struktur kalimatnya, dapat juga diterima sebagai jawaban yang benar. Cara ini biasanya dipergunakan dalam teknik pengajaran yang dimaksudnya untuk melatih ketermpilan membaca siswa.
Perhatikan contoh berikut!
Keinginan untuk memperoleh kasih sayang ----(x)---- dasar kecemburuan antar saudara dalam keluarga.
Jawaban utnuk mengisi kekosongan kalimat itu bisa beragam. Kata-kata ialah, adalah, merupakan, menjadi, atau yag lainnya boleh jadi merupakan pilihan anda. Kata ialah dan adalah, adalah dan merupakan dianggap sebagai kata yang bersinomin. Bandingkan dengan kata menjadi! Bersinonimkan? Tidak bukan? Akan tetapi, dari segi struktur, kata tersebut dapat diterima.
Penghilangan (delisi) untuk teknik isian rumpang dalam fungsinya sebagai alat ajar, tidak harus selalu dengan jarak yang konsisten. Sebagai guru, anda tentu lebih tahu, apa yang dibutuhkan siswa. Yang terpenting ialah tindak lanjut dari kegiatan ini. Diskusikanlah setiap alterntif jawaban yang diajukan siswa. Bicarakanlah alasan ketepatan atau kesalahan jawaban siswa agar mereka lebih mengerti dan lebih terbuka wawasannya.      
Keterampilan membaca, sebagaimana juga bidang-bidang keterampilan yang lainnya, memerlukan latihan yang berulang-ulang dan terus menerus untuk dapat mencapai hasil yang optimal. Seorang perenang sebelum memperoleh medali, tentu telah melakukan program latihan dengan displin tinggi serta dengan cara-cara dan metode yang tepat, secara teratur dan kontinyu. Demikian pula dengan keterampilan membaca.Untuk menjadi seorang pembaca yang terampil, dibutuhkan pembinaan dan latihan yang teratur sejak dini.
Dalam upaya pemilihan bahan, pertimbangan yang paling penting adalah faktor keterbacaan (readability). Tingkat keterbacaan harus serasi dengan tingkat kemampuan siswa. Formula-formula keterbacaan seperti 'Reading Ease Formula' (RE), 'Human Interest' (HI), 'Dale and Chall' (DAC), 'Fog Indeks' (FI), 'Grafik Fry', 'Grafik Raygor', dan 'Cloze' atau prosedur klose (selanjutnya disebut teknik isian rumpang) diangap praktis dan sederhana pemakaiannya.
Metode yang dipandang paling berhasil di antara formula-formula tersebut adalah prosedur teknik isian rumpang. Selain dapat dipergunakan sebagai alat untuk menguji keterbacan, teknik uji rumpang juga sekaligus dapat dipergunakan untuk alat/teknik pengajaran membaca. Dalam fungsinya sebagai alat ajar membaca, prosedur isian rumpang ini sangat bermanfaat dalam meningkatkan keterampilan membaca siswa.
Teknik uji rumpang mula-mula diperkenalkan oleh Wilson Taylor (1953) dengan nama 'cloze procedure'. Teknik ini diilhami oleh suatu konsep dalam ilmu jiwa Gestal, yang dikenal sengan istilah 'clozure'. Konsep ini menjelaskan tentang kecenderungan manusia untuk menyempurnakan suatu pola yang tidak lengkap secara mental menjadi satu kesatuan yang utuh; kecenderungan untuk mengisi atau melengkapi sesuatu yang sesungguhnya ada namun tampak dalam keadaan yang tidak utuh  melihat bagian-bagian sebagai suatu keseluruhan.
Seperti dijelaskan oleh Sadtono (1982:2) istilah 'clozure' mengandung makna sebagai persepsi (penglihatan dan pengertian) yang penuh atau komplit dari gambar atau keadaan yang sebenarnya tidak sempurna. Persepsi keadaan yang sempurna itu diperoleh dengan cara tidak menghiraukan bagian yang hilang atau bagian yang tidak sempurna itu; atau dengan cara mengisi sendiri bagian yang hilang atau kurang sempurna tadi berdasarkan pengalaman yang telah lampau.
Berdasarkan konsep tersebut Taylor mengembangkannya menjadi sebuah alat ukur keterbacaan wacana yang diberinya nama 'cloze procedure'. Istilah itu selanjutnya kita namai sebagai 'prosedur atau teknik isian rumpang'
Taylor sendiri mendefinisikan prosedur yang ditemukannya itu sebagai, The cloze procedure as method of interpreting a massage from 'transmitter' (writer or speaker), mutilating its language patterns by deleting parts, anda so administering it to 'receiver' (reader and listener) that their attemps to make patterns whole again yield a considerable number of cloze units (Taylor dalam Robert, 1980:71).
Secara bebas, maksud pernyataan di  atas kira-kira sebagai berikut. Teknik isian rumpang merupakan metode penangkapan pesan dari sumbernya (penulis atau pembicara), mengubah pola bahasa dengan jalan melesapkan bagian-bagiannya, dan menyampaikannya kepada si penerima (pembaca dan penyimak) sehignga mereka berupaya untuk menyempurnakan kembali pola-pola keseluruhan yang menghasilkan sejumlah unit-unit kerumpangan yang dapat dipertimbangkan.
Taylor menggambarkan teknik isian rumpang sebagai metaode yang dipergunakan untuk melatih daya tangkap pembaca/penyimak terhadap pesan/maksud penulis/pembicara dengan jalan menyajikan wacana yang tidak utuh (merumpangkan bagian-bagiannya), para pembaca/penyimak harus mampu mengolahnya menjadi sebuah pola yag utuh seperti wujudnya semula.
Dalam kaitannya dengan keterampilan membaca, Hittleman (1979:135) menjelaskan teknik isian rumpang sebagai sebuah teknik penghilangan kata-kata secara sistematis dari sebuah wacana, dan pembaca diharapkan dapat mengisi kata-kata yang hilang tersebut dengan kata-kata yang sesuai. Hittleman memandang teknik isian rumpang ini sebagai alat untuk mengukur keterbacaan. Pandangan ini juga disokong oleh pendapat Heilman (1986).
Melalaui prosedur isian rumpang, pembaca diminta untuk dapat memahami wacana yang tidak lengkap (karena bagian-bagian tertentu dari wacana tersebut telah dengan sengaja dilesapkan) dengan pemahaman yang sempurna. Bagaian-bagaian kata yang dihilangkan itu biasanya kata ke-n digantikan dengan tanda-tanda tertentu (garis lurus mendatar atau dengan tanda titik-titk). Penghilangan atau pelesapan bagian-bagian kata kata dalam prosedur/teknik uji rumpang mungkin juga tidak berdasarkan kata ke-n secara konsisten dan sistematis. Kadang-kadang pertimbangan lain turut menentukan kriteria pengosongan atau pelesapan kata-kata tertentu dalam wacana itu. Misalnya saja, kata kerja, kata benda, kata penghubung,atau kata-kata tertetntu yang dianggap penting, bisa juga merupakan kata yang dihilangkan atau dilesapkan. Tugas pembaca adalah mengisi bagian-bagain yang dilesapkan itu dengan kata hang dianggap tepat dan sesuai dengan tuntuan maksud wacana.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

1 komentar:

tyasti mengatakan...

blog nya cantik
ilmunya menarik
mbaknya estetik

cara buat blog kaya gini gimana

Posting Komentar

WRITES HERE (◑‿◐)