body, a, a:hover {cursor: url(http://1.bp.blogspot.com/-EqdSuJ1lQr4/Tsl-wr7TSfI/AAAAAAAAAj4/hBoRlPJy8qM/s300/contoh-cursor.png), progress;
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
RSS

LIKE THIS (◑‿◐)

Say Hello to Riska (◑‿◐)

PROSES MEMBACA


A.Proses Membaca
Membaca merupakan suatu proses yang merupakan rangkaian tindakan atau kegiatan yang menghasilkan produk atau hasil. Proses membaca merupakan rangkaian kegiatan yang dimulai dari menatap bacaan sampai mengolah informasi dalam otak. Proses tersebut merupakan proses membaca dalam hati. Selain membaca dalam hati,pembaca bisa saja membaca nyaring. Proses membaca nyaring diawali dengan menatap bacaan dan diakhiri dengan kegiatan melafalkan bacaan. Proses membaca dalam hati melibatkan indra mata dan otak;sedangkan membaca nyaring melibatkan indra mata, otak, dan mulut.
Walaupun proses membaca melibatkan dua atau tiga tempat, namun proses membaca merupakan kegiatan yang kompleks yang terjadi di dua atau tiga tempat tersebut. Karena kekomplekan tersebut, para ahli membaca menggambarkan proses membaca yang berbeda-beda. Proses membaca yang berbeda-beda tersebut diantaranya adalah proses membaca dalam hati, proses membaca nyaring, proses membaca Fries, dan proses membaca Gough (Haryadi 2010:99-105).
                           
    B.   Macam – macam Proses Membaca
Berdasarkan bersuara tidaknya saat membaca, proses membaca ada dua yaitu proses membaca dalam hati dan proses membaca nyaring.
1.      Proses Membaca Dalam Hati
Membaca  dalam hati pada dasarnya adalah membaca dengan mempergunakan ingatan visual(visual memory), melibatkan pengaktifan mata dan ingatan. Tujuan utama membaca dalam hati (silent reading) adalah untuk memperoleh informasi (Tarigan 2008:30). Latihan membaca dalam hati harus dimulai sejak anak-anak bisa membaca sendiri. Pada tahap ini anak-anak harus diberikan bacaan tambahan, yang penekanannya diarahkan pada keterampilan menguasai bahan bacaan, memahami ide-ide dengan usahanya sendiri. Tarigan dalam Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa, mengemukakan bahwa membaca dalam hati merupakan kunci bagi semua ilmu pengetahuan. Bila seseorang dapat membentuk konsep-konsep serta sikap-sikap pribadi, hal itu berarti dia telah memperluas kesatuan-kesatuan pikirannya serta memperoleh dasar pendapat. Dia akan menguasai cerita-cerita dan uraian-uraian sebagai suatu keseluruhan yang dalam kegiatan membaca nyaring kini hanya dapat memahami fragmen-fragmen yang lepas-lepas saja.
Pada membaca dalam hati ini, anak mencapai kecepatan dalam pemahaman frase-frase, memperkaya kosa katanya, dan memperoleh keuntungan dalam hal keakraban dengan sastra yang baik. Setelah membaca dalam hati, pengajar dapat menyuruh  pelajar mengutarakan apa yang telah ia baca, hal ini mempermudahkan pengujian pertumbuhan daya pemahaman apresiasi mereka (Cole 1950:244-245). Dalam kehidupan sehari-hari, setiap anggota masyarakat akan membaca bahan-bahan sesuai dengan selera/pilihannya masing-masing, tanpa paksaan dari pihak lain. Membaca secara perseorangan menurut selera masing-masing ini disebut personalizing reading. Pengajaran  membaca perseorangan atau personalized reading  merupakan  suatu  pendekatan terhadap organisasi kelas. Berdasarkan konsep bahwa setiap anak, setiap orang harus tahu mencari sendiri, melangkah sendiri,maju sendiri, program membaca perseorangan ini  merupakan suatu bagian dari program keseluruhan yang mungkin mencakup program dasar, pengajaran perorangan dan pendekatan pengalaman bahasa (Barbe and Abbott 1975:23).
            Keterampilan yang dituntut dalam membaca dalam hati antara lain :
1.  Membaca tanpa bersuara, tanpa bibir bergerak, tanpa ada desis apapun.
2.  Membaca tanpa ada gerakan-gerakan kepala.
3.  Membaca lebih cepat dibandingkan dengan membaca nyaring.
4.  Tanpa menggunakan jari atau alat lain sebagai penunjuk.
5.  Mengerti dan memahami bahan bacaan.
6.  Dituntut kecepatan mata dalam membaca.
7.  Membaca dengan pemahaman yang baik.
8.  Dapat menyesuaikan kecepatan dengan tingkat kesukaran yang terdapat dalam bacaan.


Dalam garis besarnya, membaca dalam hati dibagi atas: (a)  Membaca ekstensif, (b)Membaca intensif.

       2.      Proses Membaca Nyaring
                   Membaca nyaring adalah suatu aktivitas atau kegiatan yang merupakan alat bagi pelajar, pengajar, ataupun pembaca bersama-sama dengan orang lain atau pendengar untuk menangkap serta memahami informasi, pikiran, dan perasaan seorang pengarang (Tarigan1978:23). Dalam membaca nyaring, selain penglihatan dan ingatan, juga turut aktif auditory memory (ingatan pendengaran) dan motor memory (ingatan yang bersangkut paut dengan otot-otot kita) (Multon,1970:15 dalam Tarigan 1979:23). Membaca nyaring adalah sebuah pendekatan yang dapat memuaskan serta memenuhi berbagai ragam tujuan serta mengembangkan sejumlah keterampilan serta minat. Oleh karena itu, dalam mengajarkan keterampilan-keterampilan membaca nyaring, pelajar harus memahami proses komunikasi dua arah. Lingkaran komunikasi belumlah lengkap jika pendengar belum memberi tanggapan secukupnya terhadap pikiran atau perasaan yang diekspresikan oleh pembaca. Memang tanggapan tersebut mungkin hanya dalam hati, tetapi bersifat apresiatif, mempunyai nilai apresiaisi yang tinggi (Dawson (et al) 1936:215-216). Pembaca harus memahami aksara di atas kertas seta memproduksikan suara yang tepat dan bermakna. Membaca nyaring pada hakikatnya merupakan suatu masalah lisan atau oral matter. Oleh karena itu, dalam pengajaran bahasa asing aktivitas membaca nyaring lebih ditujukan pada pengucapan (pronounciation) daripada pemahaman (comprehension). Mengingat hal tersebut, maka bahan bacaan haruslah dipilih yang mengandung isi dan bahasa yang relatif mudah dipahami (Broughton(et al) 1978:91). Dalam kehidupan sehari-hari dapat kita perhatikan bahwa kegunaan membaca nyaring sangat terbatas. Sedikit orang yang dituntut membaca nyaring dalam kegiatan rutin sehari-hari, seperti penyiar radio, pembicara televisi,pengacara, atau pastor. Demikianlah, dari segi mayoritas, kegunaan atau kepentingannya memang terbatas (Broughton (et al) 1978:92).
Pembaca nyaring yang baik biasanya ingin sekali agar pendengarnya memahami apa yang ia sampaikan. Oleh sebab itu, pembaca hendaklah mengetahui keinginan serta kebutuhan pendangarnya,serta menginterpretasikan bahan bacaan secara tepat (Tarigan 2008:27). Agar dapat membaca nyaring dengan baik, pembaca haruslah menguasai keterampilan-keterampilan persepsi (penglihatan dan daya tanggap) sehingga dia mengenal dan memahami  kata-kata dengan cepat. Yang sama pentingnya dengan hal ini adalah kemampuan mengelompokkan kata-kata ke dalam kesatuan-kesatuan pikiran serta membacanya dengan baik dan lancar. Untuk membantu para pendengar menangkap serta memahami maksud pengarang, pembaca biasanya menggunakan berbagai cara, antara lain:
1.      Pembaca menyoroti ide-ide baru dengan mempergunakan penekanan yang jelas.
2.      Pembaca menjelaskan perubahan dari satu ide ke ide lainnya.
3.      Pembaca menerangkan kesatuan kata-kesatuan kata-kata yang tepat dan baik.
4.      Menghubungkan ide-ide yang bertautan dengan jalan menjaga suaranya agar tinggi sampai akhir dan tujuan tercapai.
5.       Menjelaskan klimaks-klimaks dengan gaya dan daya ekspresi yang baik dan tepat.

Keterampilan yang dituntut dalam membaca nyaring adalah berbagai kemampuan, diantaranya adalah :
1.
Menggunakan ucapan yang tepat.
2. Menggunakan frase yang tepat.
3. Menggunakan intonasi suara yang wajar.
4. Dalam posisi sikap yang baik.
5. Menguasai tanda-tanda baca.
6. Membaca dengan terang dan jelas.
7. Membaca dengan penuh perasaan, ekspresif.
8. Membaca dengan tidak terbata-bata.
9. Mengerti serta memahami bahan bacaan yang dibacanya.
10. Kecepatan bergantung pada bahan bacaan yang dibacanya.
11. Membaca dengan tanpa terus-menerus melihat bahan bacaan.
12. Membaca dengan penuh kepercayaan pada diri sendiri.





    C.   JENIS PROSES MEMBACA
Jenis proses membaca ada 5, antara lain :
1.      Membaca Sebagai Proses Sensoris
      Kegiatan awal yang dilakukan oleh pembaca adalah menerima rangsangan yang berupa simbol-simbol tulisan. Rangsangan atau isyarat masuk lewat mata atau lewat saraf-saraf jari jika rangsangan berupa Braille. Pembaca membedakan secara visual diantara simbol-simbol grafis (huruf atau kata). Proses visual dapat diamati lebih jelas pada membaca permulaan. Pembaca permulaan akan melakukan membaca secara struktural, analisis atau sintesis, atau pembaca menggunakan metode SAS. Membaca struktural (S) adalah membaca bacaan yang berupa kalimat-kalimat secara struktural, yaitu membaca kata demi kata yang menyusun kalimat yang dibacanya. Kalimat dipandang sebagai susunan dari kata-kata yang berstruktur. Membaca analisis merupakan membaca dengan cara menganalisis (mengurai) unsur bacaan yang besar, kalimat yang dibaca menjadi kata-kata, kata-kata menjadi suku kata-suku kata, dan suku kata menjadi huruf-huruf. Membaca secara sintesis adalah membaca dengan cara mensintesis (merangkai) unsur pembentuk bacaan yang kecil menjadi yang lebih besar, yaitu merangkai huruf-huruf menjadi suku kata, suku kata-suku kata menjadi kata, dan kata-kata menjadi kalimat.

2.      Membaca Sebagai Suatu Proses Psikologi
      Membaca dengan proses psikologi ialah membaca yang melibatkan unsur psikis atau mental dalam memahami suatu informasi. Unsur psikologi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor internal dan eksternal pembaca. Faktor internal membaca meliputi, intelegensi, usia mental, sikap, kemampuan persepsi, dan tingkat kemampuan membaca. Faktor eksternal pembaca meliputi jenis kelamin, tingkat social ekonomi, bahasa, ras, kepribadian sikap, dan pertumbuhan fisik. Factor yang mempengaruhi keterampilan membaca banyak, namun yang paling banyak dan paling konsisten diteliti dan dikaji adalah faktor intelegensi. Para ahli sependapat bahwa intelegensi adalah faktor yang penting. Intelegensi umum mempunyai arti penting dalam kesiapan membaca karena merupakan angka rata-rata perkembangan mental yang banyak tingkatannya. Seseorang yang mempunyai skor IQ menurut Binet di bawah 25 biasanya tidak pernah mencapai kematangan mental yang layak untuk belajar membaca. Pembaca yang mempunyai skor IQ di bawah 50 akan mengalami kesulitan dalam memahami materi bacaan yang abstrak dan materi-materi yang sukar. Pembaca yang mempunyai skor IQ diantara 50 dan 70 akan mampu membaca.

3.      Membaca Sebagai Proses Perseptual
Proses perceptual dalam membaca terdiri atas empat bagian yaitu, kesadaran akan rangsangan visual, kesadaran akan persamaan pokok untuk mengadakan klarifiksai umum kata-kata, klasifikasi lambing-lambang visual untuk kata-kata yang ada di dalam kelas umum, dan identifikasi kata-kata yang dilakukan dengan jalan menyebutkannya. Pada umumnya orang sepakat bahwa persepti itu mengandung stimulus asosiasi makna dan interpretasinya berdasarkan pengalaman tentang stimulus itu dan respons yang menghubungkan makna dengan stimulus atau lambing yang diterimanya. Pembnacamengaitkan atau membandingkan antara pengalaman yang sudah ada pada otak dan informasi yang diperoleh dari membaca.teknik membaca yang memanfaatkan stimulus asosiasi makna dan interpretasi dalam mengingat informasi yang diperolehnya  adalah teknik ling dan peg. Teknik link merupakan teknik menghafal yang digunakan untuk menghafal isi atau informasi dalam bacaan dengan menciptakan asosiasi dan menghubungkan satu informasi atau ide dengan informasi atau ide lainnya. Teknik peg merupakan teknik mengingat yang digunakan untuk menghafalkanisi atau informasi bacaan dengan menciptakan hubungan atau asosiasi antara informasi yang ada dalam bacaan dengan asosiasi yang dibentuk oleh pembaca. Teknik ini mempunyai kesamaan dengan teknik link, yaitu sama-sama menggunakan pola kerja hubungan dan asosiasi. Perbedaanya adalah teknik ini lebih lebih sederhana dan terbatas disbanding teknik link dan asosiasi. Pada teknik ini berbentuk format yang sudah tetap. Pada teknik peg yang dihafal berupa informasi yang lebih sedikit dan sifat hubungan asosiasi lebih sederhana, yaitu menghubungkan dan mengasosiasikan antara informasi yang ada dalam bacaan dengan informasi yang sudah jelas dan tetap. Format asosiasi yang tetap sebelumnya dibuat oleh pembaca secara baku.

4.      Membaca Sebagai Proses Penyimpanan
      Membaca adalah proses penyimpanan informasi yang pada suatu saat dibutuhkan untuk dikeluarkan atau diretrif. Penyimpanan dilakukan agar informasi yang diperolehnya tidak hilang dan lupa. Penyimpanan adalah proses atau peristiwa mental untuk menyimpan informasi yang diperoleh dari proses acquisition. Seseorang secara otomatis akan mengalami proses penyimpanan pemahaman  yang baru diperolehnya ketika mengalami proses acquisition. Peristiwa penyimpanan melibatkan fungsi short term dan long term. Semua informasi yang diterima seseorang sebelum masuk dan diproses oleh subsistem akal pendek atau short term memory terlebuh dahulu disimpan sesaat (sepersekian detik) dalam tempat penyimpanan sementara yang disebut sensori memori atau sensori register yaitu subsistem penyimpanan pada syaraf indera penerima informasi. Dalam dunia kedokteran subsistem ini disebut saraf sensori yang berfungsi mengirim impuls ke otak.

5.      Membaca Sebagai Suatu Proses Perkembangan Keterampilan
Membaca merupakan proses menerapkan seperangkat keterampilan. Keterampilan tersebut terkait dengan aspek mekanik dan pemahaman. Untuk dapat membaca, pembaca perlu mempunyai sejumlah keterampilan yang diperlukan saat membaca. Di samping itu, pembaca perlu berlatih menerapkan keterampilan yang dimilikinya. Saat membaca, pembaca melibatkan latihan yang sangat kompleks bergantung pada bermacam-macam factor. Proses perkembangan keterampilan membaca mempunyai tiga sifat yaitu, ketempilan bersifat berlanjut, objektif, dan dapat digeneralisasikan. Keberlanjutan proses  perkembangan keterampilan dalam pendidikan ditandai dengan tingkat sekolah. Perkembangan keterampilan membaca itu bersifat objektif karena dalam perkembanganya tidak tergantung pada materi, metode atau tingkatan-tingkatan akademis. Bagian yang penting dalam proses keterampilan adalah mengidantifikasi keterampilan yang akan diajarkan. Apabila keterampilan tertentu sudah dapat diidentifikasi, metode pembelajan membaca dan materinya sudah dapat ditentukan. Keterampilan itu dapat digeneralisasikan sehingga anak yang telah menguasai keterampilan tersebut dituntut untuk dapat meneruskannya kapan saja dan dimana saja jika situasinya menghendaki penggeneralisasian itu.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar

WRITES HERE (◑‿◐)